Perjumpaan

di sebuah warung bakso pinggir jalan

kita berusaha saling menukar cerita lama

yang selama ini kita endapkan sama-sama.

ada kalimat tanya mengawali, meski tanpa tanda

yang dapat aku lihat baik-baik

meluncur deras dari bibirmu yang

kemerahan itu. walau tak semerah saus yang menguping

di antara pembicaraan kita.

“Apa kabarmu?” engkau bertanya pelan.

aku tersenyum, sambil sedikit mengaduk semangkuk

bakso di hadapanku. mencari kata-kata di dalam

kuah yang masih meruapkan sedikit kabut itu.

“Baik, seperti yang kau lihat,” jawabku lirih.

kita berdiam sejenak. pura-pura menikmati suara

lalu lalang kendaraan yang menderu-deru.

ah, seandainya kau mampu mencongkel

kedua mataku. atau mencangkul kepalaku.

kalimat sayonara setahun yang lalu

dan hujan yang jatuh dari wajahku

seolah memberikan pengertian pada hari setelah itu

bahwa mungkin hari ini hanya sekadar

catatan kecil tentang mimpi, bukan sebuah kenyataan

yang akan digariskan pada sebuah kalender.

tetapi takdir, antara kita berdua tidaklah

memiliki hak untuk menyangkalnya.

semalam engkau menjatuhkan huruf-huruf

di telingaku melalui ponsel nokia milikku

mengajakku bertemu di sebuah warung bakso

demi mengingat masa lalu, katamu. demi

memutar kembali apa-apa yang pernah terekam dalam

ingatan. meski aku tak mau lagi menjalaninya.

tersebab aku lebih menghargai kehangatanmu

tidak lebih dari seorang teman.

bukan aku ingin mengecewakan, ataupun masih

sakit hati. tetapi aku sudah

tak cinta lagi. padamu.

Untuk Kalian

Seperti keinginan yang dipertaruhkan pada

suatu malam. Aku mengenang diri

menjadi emas yang membusanai mimpi

yang akan terus saling melengkapi.

Kalianlah yang telah rencanakan itu pelan-pelan

di atas tempat tidur. Dan aku sangat ingin

menegakkan lima huruf ke dalam jantung

paling dalam. Pun empat huruf lain bagi relung

paling tulus yang telah membolehkanku

menanam satu ladang mimpi

di tengah kristal-kristal kecil yang jatuh

dari lepuh tubuh itu. Ingin aku

mendekap tak henti-henti. Barangkali bisa

dengan itu sedikit menggagalkan dingin.

Seperti gadis kecil, sengaja duduk di tepi

jalanan tadi dengan juntai tangan

menadahi hujan-hujan mungil yang tanggal

dari kedua sudut matanya. Waktu tergesa

menyadarkanku untuk mengejakan

sajak-sajak. Mengirimkan do’a-do’a

juga teduh ketika jiwa ini

di hadapkan pada renta air mata. Akulah

yang bahagia lelap di atas pepangkuan.

Sementara aku berpikir, seandainya bisa pertemukan

senyum-senyum itu pada mimpi yang telah

kujalin. Pada seseorang yang kelak

menghadiahi dengan gelak tawa anak-anak kami.

Pada tempat peristirahatan yang ditumbuhi

banyak wewangian dan rekah daun-daun hijau.

Mendekatkannya pada kiblat yang menjadi

keutamaan. Sebelum pusara. Sebelum

kematian menjadi jarak paling jauh

di antara bibir-bibir kita. Aku amat ingin.

Barangkali Kita Belum Menyusun Tubuh dengan Batu-Batu

Barangkali kita belum sempat

menyusun tubuh dari batu-batu

bahkan sekadar membekalinya dengan

sedikit peluh, setumpuk buku, juga
sebungkus ilmu. Padahal ibu

mati-matian mengizinkan do’anya boleh kita curi

di tiap waktu. Atau mungkin dirimulah

yang masih takut, kalau akan ada

musuh yang bisa saja menyerangmu

dari balik tengkuk putih itu.

Rumah, langgar, dan sekolah di dalam
kepala, seperti

kehilangan cahaya, meski almanak belumlah cukup dewasa

meraup usia kita yang remaja. Bukankah

kita ini yang telah diberi

sepasang tumit kaki yang lancip dan

telapak yang lebar-lebar? Bukankah

kitalah yang dititipi tangan-tangan kekar?

Kau dan aku punya cukup tenaga untuk

mencangkuli detik, menit, dan tahun

yang masih terbenam di dalam tanah. Seperti

bocah yang kerap kali termenung

di pinggir kali itu. Dialah yang menungguimu

hingga menetas. Bukan ikan. Bukan kerang. Apalagi

gurita yang punya banyak tangan. Tetapi
kita; aku dan kau.

Lihatlah tempat ini, seperti kehilangan akal. Ke mana

pemudanya yang cuma bisa sembunyi

di bawah ketiak bumi?

Kitalah Bagian dari Cerita

Barangkali aku tak perlu susah payah lagi menyesaki dada dengan air mata. Kitalah bagian dari cerita. Kitalah yang pernah dipertemukan di bawah rimis hujan yang jatuh, di sela daun yang gugur dan pura-pura mati, juga di alamat pada tubuh kita yang berkeringat. Biarkan kenangan, yang akan mempertemukan kita dalam ingatan. Seperti matahari dan bulan yang kadang kala saling berdekapan, seperti derap telapak kakimu yang masih bisa kudengar di acap kali aku bisa tiba dalam mimpi. Kitalah bagian dari cerita. Kitalah angin yang telah terbang ke segala arah. Tetapi, ketika senja mengetuk kaca jendela pelan-pelan, kita pulalah yang akan menjelma sebagai burung-burung cantik yang berkejaran mencari sangkar, untuk melucuti segala kepenatan yang seharian telah menyusup dalam aliran darah dan pori-pori. Kitalah bagian cerita. Kita seperti kuntum melati, yang kerap kali saat pagi dimulai, saling membagi aroma wangi. Kitalah yang nanti akan mengusung mimpi, di suatu hari yang sama-sama kita sebut sebagai waktu yang paling dihargai. Bersama segala kisah yang telah lama menumpuk dalam buku di kepalaku, aku akan bertandang dan menyebut namamu sekali lagi. Seperti dulu saat masih senang bercengkerama di sekolah, di rumah, dan di bibir jalan yang telah mengukur perjalanan kita yang panjang.

Muaradua, 20 Juli 2010
(kepada semua teman pada waktu sekolah dulu, aku ingin bertemu dengan segenap rindu..)

Perempuan Paling Pagi

hujan telah menjebakmu dalam sebuah buku
lalu menaruh gubahan lagu di tubuhmu
pada halamannya yang paling belakang
ketika subuh telah benar-benar mendahuluimu
menyisiri kerikil, berharap ada yang dapat terbaca di sana, barangkali. bukankah
sebentar lagi akan ada
matahari yang bertandang
menyesap keringatmu dalam-dalam?
atau apakah kau tak pernah lagi mengingat
bocah mungil paling sederhana di sana
telah cukup waktu bertengkar dengan rindu
walau sekadar mengendus dadamu, menyebut namamu?

kerap kali butir peluhmu yang pasi itu, hanya sebatas ruap air
dan tak pernah dihargai sebagai kesucian yang matang.
atau sekali lagi, kau memang telah ditakdirkan menjadi
perempuan paling pagi di sini
pada lapak yang kau sebut tempat
paling nyaman mencari sebutir nasi?

yang terakhir kudengar, kau masih sering interupsi. dan sesekali
bibirmu yang telah dikuasai debu itu
mengajak para tuan dan nona berkalung emas dua puluh empat karat
bertukar pikiran. bertukar puisi. dan bertukar jabatan, semalaman saja. hanya semalam saja.

Kepada Tiga Wajah

: Nov

tiga kali pergantian tahun. hujan yang murung, atau sekadar pelangi yang terbiasa membangunkan kita dari lelap semalaman. acap kali sepeda motor, memberangkatkan kita pada separuh perjalanan. uang di sakumu, uang di sakuku, dan sebuah kehangatan yang kau tanam di ubun-ubunku, adalah pertanda bahwa daun yang jatuh telah mendidik kita menjadi sepasang kupu-kupu. kita telah mengitari laman-laman yang curam. sepekan tiga kali, atau lebih, atau kurang. di sana kita malah lebih sering bertukar argumen, daripada mengecap manisnya dua batang es krim. tiga kali pergantian tahun, namun hingga kini, kehangatanmu sebagai teman sejati, masih bisa kumiliki.

: Mi

bahasa Inggrismu begitu lugas, meski aku lebih menyukai bahasa Perancis. di matamu aku mampu mendapati ketabahan, ketika seseorang yang teramat penting dalam hidupmu, telah meyakinkan bahwa ia telah selesai menyatakan tugas. senyumanmu lucu, tawamu pun syahdu, melucuti aku yang lugu. di jantungku, kau telah mengikatkan seutas tali, menandakan dirimulah salah seorang yang selama ini kucari. masihkah kau menekuni sebagai seorang yang ahli akuntansi?

: Sar

dari sekian banyak pohon kunyit, dirimulah yang paling sering kupanggil kunyit. sering kali keluguanmu (yang lebih lugu dariku) itu, memaksaku meledek kulitmu, telapak kakimu, dan kediamanmu. aku amat ingin saban hari, menjumpaimu dengan beberapa mangkuk tekwan, segelas syrup bermerek marjan, dan setoples kemplang yang renyah. agar ketika itu juga, aku dapat menghadiahimu dodol kesukaanku, seperti yang sering kita petik dari sebuah warung pinggir jalan saat duduk di bangku SMP dulu.

Sebuah Jalan yang Akan Menuntunmu Pulang

bumi itu bulat. seperti bola matamu yang paling niat.
pergilah. teruskanlah derap langkahmu depa demi depa.
kelak nanti suatu waktu, akan kau jumpai lagi aku
di tanah yang sama, di satu cinta yang masih sama.
karena cerita kita di masa lampau, akan menjelma menjadi
sebuah jalan yang akan menuntunmu pulang.

telah berapa jumlah musim yang kita itari dengan sauh
yang acap kali goyah, seperti hendak menumpahkan kita
pada muka samudera yang dipenuhi banyak luka. tetapi do’a yang pernah
kita terbangkan di ujung jemari, mampu mengajak langkah kaki menuju Tuhan
dan menyimpuh agar perjanjian kita pada suatu laman petang
yang telah dipakukan pada jam dinding, akan menjadi
sebuah buku yang paling tebal
(yang akan memuat rimbun ceritera yang pernah kita dirikan
dengan peluh dan air mata). lalu dengan itulah
kelak angin akan mengajakmu pulang kembali ke rumah ini
membawa mimpi yang telah selesai kau perjuangkan
di kota yang tak bisa kujaring meski dengan kedua mata yang lelah.

aku percaya untuk tak perlu merunyamkan kepala
memikirkan kekhawatiran yang sempat mengetuk
kaca jendela kamarku
bahwasannya kau mungkin akan terlupa
kalau ada seseorang yang menunggumu
dengan rindu yang paling suci di dadanya. sebab aku benar-benar yakin
cerita kita di masa lampau, akan menjelma menjadi
sebuah jalan yang akan menuntunmu pulang.

Tentangmu (Palestina)

karena angin yang lebam pun
tak akan cukup mampu menakar berapa
halaman malam yang kau bawa tanpa
tidur yang nyaman, secawan senyuman, juga dian-dian
yang dulu pernah
membasuh gegaris teriakan
dan aku semakin tahu
telapak tangan yang terbentang pada
kejam hujan yang tajam
telah menjadi hal yang lamur
kabur dari pasi wajah yang
tidak pernah mau menyudahi
betapa hari penuh luka
dan bibir yang menggigil

dalamnya matamu telah lelah
menggenggam segala
aral yang mungkin tak ‘kan pernah
kau temukan jawabannya di tubuh
jalanan itu, bukit-bukit, atau sekadar batu
karena semua telah menyatu
menasbihkan diri sebagai
sekian dari tak hingganya kesaksian
betapa darah adalah sebuah jawaban
dan azzam, ia tak ‘kan menjadi percuma

suatu waktu
jika tetap pada keyakinan satu
langit akan membuka
tirai wajahnya yang akan
menuntaskan titah-titah miliknya
melahirkan segenap pelangi dan cahaya
di wajahmu

Ini Akhir Bulan Juni, Kawan!

Ini akhir bulan Juni, kawan. Sudah dua kali Juni kita injak, setelah Juni yang itu. Namun musim tetap sama; foto yang masih tertera di telepon genggamku, angin yang pernah kau taruh di ujung bulu mataku, lalu sebuah jam tangan yang khusus kau berikan sebagai tanda kenangan ketika bis Ranau Indah akan membawaku ke suatu tempat. Tetapi ternyata aku lupa, bahwa aku pernah meninggalkan sebuah luka. Bahkan, aku telah melanggar janji, untuk menjadi sebuah puisi dan pohon damar yang teduh untukmu. Aku minta maaf untuk itu. Aku juga minta maaf, karena lupa memintakan maaf untuk kesalahanku.

Ini akhir bulan Juni, kawan. Seperti sebelas bulan tanpa Juni, tentu aku akan merasa tidak lengkap, ketika kita berniat untuk sama-sama pamit. Karena dua kali Juni sebelum ini, di sanalah kau menanggalkan segala romantis dan hangatmu sebagai burung yang selalu mengajakku terbang. Lalu hujan yang sebenarnya kita cintai, tiba-tiba berubah murung dan menyeret kita ke dua arah yang saling berjauhan. Padahal sebelumnya, kita pernah mengikatkan seutas perjanjian di sudut sekolah, kantin nasi uduk, dan pintu gerbang berwarna biru.

Ini akhir bulan Juni, kawan. Sudah berapa lama kita tak saling mendekap, menikmati lezatnya Juni yang seperti pelangi, seperti dulu..

Tentang Rindu

Semua orang begitu menikmati atas perasaan mereka sendiri. Mereka terlampau mudah untuk mengguratkan sepotong senyum bahagia di wajah masing-masing. Karena, ketika terjaga atau saat membenamkan jiwa pada mimpi yang indah, mereka yakin bahwa ada yang menitipkan rindu bagi mereka. Mereka bahagia karena kerinduan yang dimiliki, berbalas dengan kerinduan pula. Tetapi, bagaimana denganku? Sebelum aku menjawab, adalah lebih baik jika kuseka dahulu air mata ini. Karena jika tidak, tentu akan sulit bagiku untuk bercerita. Aku bodoh, memang. Menangis karena rindu, terluka pun karena rindu. Jika aku disuruh untuk memilih, aku ingin sekali membangun sebuah pagar yang tinggi, agar dapat menjaga hati ini dari masuknya perasaan bernama rindu. Tetapi, apa aku punya kuasa untuk itu? Aku hanya manusia biasa. Aku hanya seseorang yang sekadar bisa menerima, tanpa punya hak untuk menolak perasaan rindu ini datang padaku. Berulang kali bahkan, aku mengupayakan agar mampu menepis kerinduan ini, tapi tetap tak mampu jua. Mengapa? Karena aku sungguh tak punya hak untuk itu. Aku manusia biasa. Dan aku memiliki hati. Itulah sebabnya mengapa aku rindu. Jangan salahkan aku..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.