Barangkali Kita Belum Menyusun Tubuh dengan Batu-Batu

Barangkali kita belum sempat

menyusun tubuh dari batu-batu

bahkan sekadar membekalinya dengan

sedikit peluh, setumpuk buku, juga
sebungkus ilmu. Padahal ibu

mati-matian mengizinkan do’anya boleh kita curi

di tiap waktu. Atau mungkin dirimulah

yang masih takut, kalau akan ada

musuh yang bisa saja menyerangmu

dari balik tengkuk putih itu.

Rumah, langgar, dan sekolah di dalam
kepala, seperti

kehilangan cahaya, meski almanak belumlah cukup dewasa

meraup usia kita yang remaja. Bukankah

kita ini yang telah diberi

sepasang tumit kaki yang lancip dan

telapak yang lebar-lebar? Bukankah

kitalah yang dititipi tangan-tangan kekar?

Kau dan aku punya cukup tenaga untuk

mencangkuli detik, menit, dan tahun

yang masih terbenam di dalam tanah. Seperti

bocah yang kerap kali termenung

di pinggir kali itu. Dialah yang menungguimu

hingga menetas. Bukan ikan. Bukan kerang. Apalagi

gurita yang punya banyak tangan. Tetapi
kita; aku dan kau.

Lihatlah tempat ini, seperti kehilangan akal. Ke mana

pemudanya yang cuma bisa sembunyi

di bawah ketiak bumi?

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.