: Nov
tiga kali pergantian tahun. hujan yang murung, atau sekadar pelangi yang terbiasa membangunkan kita dari lelap semalaman. acap kali sepeda motor, memberangkatkan kita pada separuh perjalanan. uang di sakumu, uang di sakuku, dan sebuah kehangatan yang kau tanam di ubun-ubunku, adalah pertanda bahwa daun yang jatuh telah mendidik kita menjadi sepasang kupu-kupu. kita telah mengitari laman-laman yang curam. sepekan tiga kali, atau lebih, atau kurang. di sana kita malah lebih sering bertukar argumen, daripada mengecap manisnya dua batang es krim. tiga kali pergantian tahun, namun hingga kini, kehangatanmu sebagai teman sejati, masih bisa kumiliki.
: Mi
bahasa Inggrismu begitu lugas, meski aku lebih menyukai bahasa Perancis. di matamu aku mampu mendapati ketabahan, ketika seseorang yang teramat penting dalam hidupmu, telah meyakinkan bahwa ia telah selesai menyatakan tugas. senyumanmu lucu, tawamu pun syahdu, melucuti aku yang lugu. di jantungku, kau telah mengikatkan seutas tali, menandakan dirimulah salah seorang yang selama ini kucari. masihkah kau menekuni sebagai seorang yang ahli akuntansi?
: Sar
dari sekian banyak pohon kunyit, dirimulah yang paling sering kupanggil kunyit. sering kali keluguanmu (yang lebih lugu dariku) itu, memaksaku meledek kulitmu, telapak kakimu, dan kediamanmu. aku amat ingin saban hari, menjumpaimu dengan beberapa mangkuk tekwan, segelas syrup bermerek marjan, dan setoples kemplang yang renyah. agar ketika itu juga, aku dapat menghadiahimu dodol kesukaanku, seperti yang sering kita petik dari sebuah warung pinggir jalan saat duduk di bangku SMP dulu.
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
