Barangkali aku tak perlu susah payah lagi menyesaki dada dengan air mata. Kitalah bagian dari cerita. Kitalah yang pernah dipertemukan di bawah rimis hujan yang jatuh, di sela daun yang gugur dan pura-pura mati, juga di alamat pada tubuh kita yang berkeringat. Biarkan kenangan, yang akan mempertemukan kita dalam ingatan. Seperti matahari dan bulan yang kadang kala saling berdekapan, seperti derap telapak kakimu yang masih bisa kudengar di acap kali aku bisa tiba dalam mimpi. Kitalah bagian dari cerita. Kitalah angin yang telah terbang ke segala arah. Tetapi, ketika senja mengetuk kaca jendela pelan-pelan, kita pulalah yang akan menjelma sebagai burung-burung cantik yang berkejaran mencari sangkar, untuk melucuti segala kepenatan yang seharian telah menyusup dalam aliran darah dan pori-pori. Kitalah bagian cerita. Kita seperti kuntum melati, yang kerap kali saat pagi dimulai, saling membagi aroma wangi. Kitalah yang nanti akan mengusung mimpi, di suatu hari yang sama-sama kita sebut sebagai waktu yang paling dihargai. Bersama segala kisah yang telah lama menumpuk dalam buku di kepalaku, aku akan bertandang dan menyebut namamu sekali lagi. Seperti dulu saat masih senang bercengkerama di sekolah, di rumah, dan di bibir jalan yang telah mengukur perjalanan kita yang panjang.
Muaradua, 20 Juli 2010
(kepada semua teman pada waktu sekolah dulu, aku ingin bertemu dengan segenap rindu..)
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
