Perempuan Paling Pagi

hujan telah menjebakmu dalam sebuah buku
lalu menaruh gubahan lagu di tubuhmu
pada halamannya yang paling belakang
ketika subuh telah benar-benar mendahuluimu
menyisiri kerikil, berharap ada yang dapat terbaca di sana, barangkali. bukankah
sebentar lagi akan ada
matahari yang bertandang
menyesap keringatmu dalam-dalam?
atau apakah kau tak pernah lagi mengingat
bocah mungil paling sederhana di sana
telah cukup waktu bertengkar dengan rindu
walau sekadar mengendus dadamu, menyebut namamu?

kerap kali butir peluhmu yang pasi itu, hanya sebatas ruap air
dan tak pernah dihargai sebagai kesucian yang matang.
atau sekali lagi, kau memang telah ditakdirkan menjadi
perempuan paling pagi di sini
pada lapak yang kau sebut tempat
paling nyaman mencari sebutir nasi?

yang terakhir kudengar, kau masih sering interupsi. dan sesekali
bibirmu yang telah dikuasai debu itu
mengajak para tuan dan nona berkalung emas dua puluh empat karat
bertukar pikiran. bertukar puisi. dan bertukar jabatan, semalaman saja. hanya semalam saja.

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.