di sebuah warung bakso pinggir jalan
kita berusaha saling menukar cerita lama
yang selama ini kita endapkan sama-sama.
ada kalimat tanya mengawali, meski tanpa tanda
yang dapat aku lihat baik-baik
meluncur deras dari bibirmu yang
kemerahan itu. walau tak semerah saus yang menguping
di antara pembicaraan kita.
“Apa kabarmu?” engkau bertanya pelan.
aku tersenyum, sambil sedikit mengaduk semangkuk
bakso di hadapanku. mencari kata-kata di dalam
kuah yang masih meruapkan sedikit kabut itu.
“Baik, seperti yang kau lihat,” jawabku lirih.
kita berdiam sejenak. pura-pura menikmati suara
lalu lalang kendaraan yang menderu-deru.
ah, seandainya kau mampu mencongkel
kedua mataku. atau mencangkul kepalaku.
kalimat sayonara setahun yang lalu
dan hujan yang jatuh dari wajahku
seolah memberikan pengertian pada hari setelah itu
bahwa mungkin hari ini hanya sekadar
catatan kecil tentang mimpi, bukan sebuah kenyataan
yang akan digariskan pada sebuah kalender.
tetapi takdir, antara kita berdua tidaklah
memiliki hak untuk menyangkalnya.
semalam engkau menjatuhkan huruf-huruf
di telingaku melalui ponsel nokia milikku
mengajakku bertemu di sebuah warung bakso
demi mengingat masa lalu, katamu. demi
memutar kembali apa-apa yang pernah terekam dalam
ingatan. meski aku tak mau lagi menjalaninya.
tersebab aku lebih menghargai kehangatanmu
tidak lebih dari seorang teman.
bukan aku ingin mengecewakan, ataupun masih
sakit hati. tetapi aku sudah
tak cinta lagi. padamu.
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
