bumi itu bulat. seperti bola matamu yang paling niat.
pergilah. teruskanlah derap langkahmu depa demi depa.
kelak nanti suatu waktu, akan kau jumpai lagi aku
di tanah yang sama, di satu cinta yang masih sama.
karena cerita kita di masa lampau, akan menjelma menjadi
sebuah jalan yang akan menuntunmu pulang.
telah berapa jumlah musim yang kita itari dengan sauh
yang acap kali goyah, seperti hendak menumpahkan kita
pada muka samudera yang dipenuhi banyak luka. tetapi do’a yang pernah
kita terbangkan di ujung jemari, mampu mengajak langkah kaki menuju Tuhan
dan menyimpuh agar perjanjian kita pada suatu laman petang
yang telah dipakukan pada jam dinding, akan menjadi
sebuah buku yang paling tebal
(yang akan memuat rimbun ceritera yang pernah kita dirikan
dengan peluh dan air mata). lalu dengan itulah
kelak angin akan mengajakmu pulang kembali ke rumah ini
membawa mimpi yang telah selesai kau perjuangkan
di kota yang tak bisa kujaring meski dengan kedua mata yang lelah.
aku percaya untuk tak perlu merunyamkan kepala
memikirkan kekhawatiran yang sempat mengetuk
kaca jendela kamarku
bahwasannya kau mungkin akan terlupa
kalau ada seseorang yang menunggumu
dengan rindu yang paling suci di dadanya. sebab aku benar-benar yakin
cerita kita di masa lampau, akan menjelma menjadi
sebuah jalan yang akan menuntunmu pulang.
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
