karena angin yang lebam pun
tak akan cukup mampu menakar berapa
halaman malam yang kau bawa tanpa
tidur yang nyaman, secawan senyuman, juga dian-dian
yang dulu pernah
membasuh gegaris teriakan
dan aku semakin tahu
telapak tangan yang terbentang pada
kejam hujan yang tajam
telah menjadi hal yang lamur
kabur dari pasi wajah yang
tidak pernah mau menyudahi
betapa hari penuh luka
dan bibir yang menggigil
dalamnya matamu telah lelah
menggenggam segala
aral yang mungkin tak ‘kan pernah
kau temukan jawabannya di tubuh
jalanan itu, bukit-bukit, atau sekadar batu
karena semua telah menyatu
menasbihkan diri sebagai
sekian dari tak hingganya kesaksian
betapa darah adalah sebuah jawaban
dan azzam, ia tak ‘kan menjadi percuma
suatu waktu
jika tetap pada keyakinan satu
langit akan membuka
tirai wajahnya yang akan
menuntaskan titah-titah miliknya
melahirkan segenap pelangi dan cahaya
di wajahmu
Tinggalkan sebuah Komentar
Belum ada komentar.
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
